Jomblo Metropolitan: Ketika Mantan Pacar Lo Hamil




Oleh: Abdul Qowi Bastian

“Aku hamil,” kata dia di ujung telepon.

“F*ck,” umpat gue dalam hati.

“Kok diam?” tanya dia. “Halo?”

“Ya, ya. I’m here.”

Kemudian hening. Enggak ada kata-kata meluncur dari mulut gue saat itu. Pikiran gue terasa tersendat bagaikan saluran mampet di pinggir kali Jiung.

Apa yang harus gue katakan pada orangtua? Meski hari itu sinar mentari menyelinap melalui gorden jendela kamar, namun di kepala gue semuanya gelap. Termasuk masa depan gue. Kelam.

Masih banyak cita-cita yang ingin gue kejar. Masih banyak hal-hal yang ingin gue lakukan tanpa harus tertambat pada seorang bayi.

“Oke…” kalimatnya dibiarkan mengambang seraya menunggu jawaban dari gue. Mungkin dia enggak mengharapkan jawaban. Mungkin dia hanya ingin mendengar reaksi gue. Pendapat gue. Yang anehnya pada saat itu enggak ada sama sekali.

Meski gue enggak bisa melihat gerakan dia di seberang sana, tapi gue bisa mendengar hembusan nafasnya yang seolah menyatakan dia akan segera menutup telepon.

“Tunggu,” kata gue. “Kok bisa? Kan kita udah lama enggak ketemu.”

Gue mengakhiri hubungan itu karena merasa tidak ada kecocokan di antara kami berdua. Dia memilih jalan yang gue enggak mau terlibat di dalamnya.

Tapi biarpun begitu, kami masih menjadi teman baik. Dia masih sering curhat tentang kehidupan barunya, sedangkan gue lebih banyak mendengar.

Kadang-kadang kami masih bertatap muka, hanya untuk ngobrol ngalor ngidul.

Dan itu yang membuat gue khawatir. Itu yang membuat gue saat ini lemas. Seakan seluruh tenaga gue dihisap oleh Dementor.

“Ya, bisa dong. Memangnya siapa bilang ini anak kamu?” ucapnya sambil tersenyum. Ya, gue enggak bisa melihat dia melalui kabel telepon. Tapi gue yakin seratus persen kalau dia tersenyum pas mengucapkan kalimat itu.

Gue seketika merasa bodoh. Ya, tentu saja dia hamil. Anak yang sedang dikandungnya itu anak suaminya. Suami yang ia terima pinangannya sejak setahun lalu.

Tololnya adalah gue lupa kalau gue datang ke resepsi pernikahannya. Dan itulah saat terakhir gue bertemu dia.

“Aku cuma mau kabarin kamu aja. Supaya enggak lupa beli kado waktu aku melahirkan nanti,” katanya terkekeh.

Sontak gue pun langsung menghembuskan napas lega dan mengucap syukur berkali-kali. Dia pun tertawa kencang mendengarnya. Puas ngerjain gue yang udah dibikin hampir pingsan oleh kabar mengejutkan itu.


Comments