Apa Persamaan Michael Phelps dan Harry Potter?




Oleh: Abdul Qowi Bastian

Tulisan ini  adalah hasil obrolan dengan seorang kawan, Christabelle Palar. Christabelle yang bekerja sebagai representatif Indonesia untuk aplikasi membaca buku online, Bookmate, suatu hari pernah bertanya kepada saya.

“Kalau lo bisa merekomendasikan satu buku untuk seorang atlet Olimpiade, buku apa itu?” tanyanya.

Saya sempat mendiamkan beberapa minggu. Saya bingung menjawabnya. Sempat terpikir beberapa nama atlet lain dan beberapa buku lain, tapi akhirnya saya memutuskan untuk memilih atlet Michael Phelps dan buku terbaru seri Harry Potter, Harry Potter and The Cursed Child sebagai rekomendasi.

Mengapa? Dan apa persamaan Michael Phelps dan Harry Potter? 

Selain keduanya merupakan laki-laki terpopuler di bidangnya, Phelps dan Potter juga memiliki kesamaan lain. Mereka tumbuh remaja dan dewasa tanpa figur seorang ayah. Kedua orangtua Harry, James dan Lily Potter, tewas dengan tragis di tangan penyihir jahat, Lord Voldemort, ketika ia masih bayi.

Sementara orangtua Michael Phelps, Fred dan Debby, bercerai ketika atlet renang yang telah mengoleksi 23 medali emas Olimpiade itu berusia 9 tahun. Persamaan kedua tokoh muda nan berpengaruh ini membuat saya melihat ada benang merah di antara mereka.

Kini Phelps berusia 31 tahun dan telah memiliki seorang anak bayi laki-laki yang ia beri nama Boomer — hasil buah hatinya bersama sang tunangan, Nicole Johnson. Ketika ia memenangi emas ke-22nya, Phelps bahkan mempersembahkan medalinya untuk anak pertamanya itu. Ia menaiki tangga tempat fotografer dan memberi kecupan kepada bayi yang lahir pada 5 Mei 2016 itu.

Sementara Harry Potter, yang baru saja berulang tahun ke-36 pada 31 Juli lalu, kini menduduki posisi penting sebagai Minister of Magic. Ia memiliki tiga orang anak dari pernikahannya dengan kekasih masa mudanya, Ginny Weasley. Mereka adalah James Sirius, Albus Severus, dan Lily Luna.

Dalam buku terbaru serial ini yang berjudul Harry Potter and The Cursed Child, pengarang J.K. Rowling menggambarkan Harry kini mengalami masa-masa sulit sebagai seorang dewasa.
Ia sukses melewati masa remaja yang penuh hormonal, penuh amarah, namun berprestasi. Harry berhasil menumpaskan musuh terbesar dalam dunia sihir.

Begitu pula dengan Phelps. Ia mampu menaklukkan rintangan-rintangan di 4 ajang Olimpiade sejak Athena pada 2004 hingga Rio de Janeiro pada 2016.

Namun pekerjaan terberat Harry baru dimulai 19 tahun kemudian, ketika anak-anaknya beranjak remaja, terutama anak tengahnya, Albus Severus, yang “bermasalah”.

Salah satu tema utama dalam Cursed Child adalah bagaimana Harry, sebagai seorang ayah, mendidik dan membesarkan anak, padahal ia tumbuh dewasa tanpa ada figur ayah yang bisa dijadikan panutan.

Ia harus mencoba sendiri, meraba-meraba, apakah keputusan-keputusan yang ia ambil baik untuknya, untuk keluarganya, dan untuk anak-anaknya.

Ditambah lagi dengan nama besar Harry Potter yang dihormati oleh penyihir baik tua maupun muda, pria ataupun wanita.

Phelps, sebagai seorang perenang nomor satu di dunia saat ini, dapat mengambil satu-dua pelajaran hidup dari kisah Harry Potter.

Bagaimana ia yang tak memiliki hubungan baik dengan ayah kandungnya (Fred), bisa membesarkan seorang anak (Boomer), tanpa ada sosok bapak yang membantunya.

Nama besar Michael Phelps di dunia renang juga pada suatu saat akan berdampak pada Boomer. Apakah ia diharapkan dapat sesukses ayahnya di masa mendatang? Layaknya Albus yang dituntut untuk menjaga nama baik keluarga besar Potter.

Comments