Dari 'Fake Accounts' Instagram Sampai Ortu Mantan Pacar: Cerita Para Korban Cyberbullying




Oleh: Abdul Qowi Bastian

Cyberbullying itu nyata. Meski itu terjadi di dalam layar monitor, bukan berarti itu tidak nyata.

Perudungan siber memiliki efek yang tidak kecil dalam psikologis seseorang. Menurunnya kepercayaan diri, terganggunya performa dalam belajar dan bekerja, hingga memiliki niat untuk melakukan tindakan bunuh diri hanya merupakan beberapa dampak dari cyberbullying.

Cerita mereka adalah bukti bahwa mereka ada di sekitar kita. Hanya karena efeknya tak terlihat, bukan berarti itu tidak nyata.

Yopi Kurniawan (28), Asisten Desainer

Pengalaman cyberbullying yang pertama kali saya dapatkan berasal dari teman-teman atau beberapa pengguna fake accounts yang beredar di dunia maya. Saya seorang pageant lover yang bekerja di industri fashion tentu sering kali bertemu dengan para pelaku pageants itu sendiri, apalagi desainer di tempat saya bekerja sering bekerja sama dengan organisasi atau yayasan tempat para pelaku pageants itu bernaung.

Singkat cerita, intensitas bertemu dengan para pelaku pageants yang tinggi dan beberapa dokumentasi yang sering saya unggah di social media tentu mengundang beberapa penilaian dari para pengguna social media itu sendiri. Ditambah lagi hobi saya melakukan parodi catwalk tentu menuai banyak cibiran dan tak sedikit pula yang memberikan pujian, mulai dari cibiran yang menyerang fisik sampai mental pernah saya dapatkan.

Hal itu tentu membuat saya down apalagi kalau cibiran itu disangkut pautkan dengan keluarga saya. Pernah ibu saya ikut dihina dan itu membuat saya sangat sedih sekali.

Support dan doa dari teman-teman yang berada di belakang saya sangat berarti sekali, positive vibes yang selalu mereka berikan tentu berdampak besar bagi kehidupan dan diri saya. Saya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, more talkative, respect the others.

Satu pelajaran yang saya ambil dalam kehidupan pasti ada orang yang suka dan tidak suka, semua tergantung bagaimana diri kita menyikapinya. Abaikan semua komentar negatif, ambil sisi positifnya dan jadikan pembelajaran agar kita menjadi manusia yang baik ke depannya.

Muhammad Riandhy Anindika Yudhi (28), Pegawai Swasta

Terima kasih atas kesempatan untuk mengungkapkan pikiran saya. Ini adalah salah satu hal tersulit karena saya masih merasakan trauma akibat cyberbullying itu hingga saat ini.

Kasus ini bermula di Facebook sekitar satu bulan lalu, Ibu mantan pacar saya menyerang saya di publik menggunakan bahasa yang tidak pantas, termasuk sumpah serapah, hinaan, hingga julukan, sambil berusaha untuk mempengaruhi orang-orang yang membacanya agar memandang saya buruk. Saya benci untuk mengakuinya, tapi itu menghancurkan rasa percaya diri saya. 

Dia menyampaikan ke semua orang dalam serangan-serangannya bahwa saya tidak lebih baik daripada sampah dan tidak pantas pacaran sama anaknya.

Dia menyebarkan kebenciannya dengan mengomentari setiap foto saya di Facebook dan Instagram, serta mengampanyekan pandangannya terhadap saya agar orang-orang memandang saya seburuk yang dipandangnya.

Sakitnya tidak terasa sewaktu anaknya masih memilih untuk bersama saya. Tapi ketika dia berhasil membujuk putrinya untuk meninggalkan saya, saya mulai merasakan sakitnya.

Dia tidak berhenti di sana dan tetap meresahkan saya lewat beragam media sosial, walaupun semuanya sudah berakhir. Hanya karena dia ingin memberikan sebanyak mungkin luka yang bisa dia berikan. Saya hampir gila karena perbuatannya.

Angga Mardhian Locano (21), Mahasiswa

Saya Angga Mardhian Locano, menetap di Cirebon sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya saya tinggal di Magetan, Jawa Timur selama 10 tahun. Saya pernah mengalami cyberbullying kira-kira 8 tahun lalu saat masih kelas 2 SMP.

Awal saya mengenal kata "maho". Dulu Facebook adalah hal yang paling gaul di kota sekecil Magetan, termasuk saya. Masa SMP-SMA adalah pencarian jati diri saya, mungkin dipengaruhi oleh masa pubertas juga.

Saya ingin mendapat teman cowok yang bisa berbagi perasaan layaknya pertemanan yang ada. Saya dekatilah salah satu teman saya bernama Bimo. Memang dia sudah seperti orang hits satu sekolahan, siapa yang tak kenal dia, bahkan sekota Magetan. Karena memang keluarganya yang sering jadi pembicaraan walau kurang dipandang dari sisi prestasi.

Kedekatan saya dengan Bimo ternyata dianggap hal yang aneh oleh teman-teman saya lainnya. Saya menyadari itu ketika membuka Facebook. Foto Bimo bersama temannya muncul di beranda Facebook dengan tag yang lumayan banyak. 

Komenlah saya di foto tersebut karena saya tertarik untuk ikut dalam percakapan mereka. Tak lama setelah itu, muncul sebuah komentar dari teman Bimo di bawah komentar saya “Itu lho maho cariin kamu.”

Apa maksudnya? Tak ada sambungannya dengan komentar lain. Saya pun membalas komentar tersebut karena penasaran, tetapi balasannya sangat tidak mengenakkan. Bahkan menertawai. Maho singkatan dari “Manusia Homo”, mungkin? Selama ini jadi bahan guyonan banyak pria seumuran saya. Mengapa kedekatan saya dianggap hal yang aneh lalu menyangkut pautkannya dengan orientasi seksual?

Sejak itu saya menjauhi Bimo hingga sekarang saya merasa lebih baik dengan keadaan saya yang mungkin sebagian teman saya di Magetan sudah mendengar kabar burung tentang "maho”.

Comments