Rene Suhardono: Disilaukan Politik, Kembali ke Jalan yang Lurus




Oleh: Abdul Qowi Bastian

“Kok gitu banget berubahnya?”
“What happened to you?”
“Are you ok? Really?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kerap muncul ditanyakan teman-teman sepermainan atau rekan kantor ketika seseorang baru saja memutuskan untuk berhijrah. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh motivational speaker dan career coach, Rene Suhardono, dalam buku terbarunya, Inilah Jalan Hijrahku: From Hopelesness to Acceptance, yang ditulis bersama istrinya, Intan Yamuna.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Mizan ini sangat, sangat personal. Keterbukaan Rene dan Muna mengungkap prahara rumah tangga mereka dan langkah-langkah yang mereka ambil untuk memperbaikinya, membuat mereka menjadi “manusia”, yang tidak sempurna, yang sering melakukan kesalahan, yang tidak luput dari perasaan malu dan berdosa, namun berikhtiar agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu demi menatap masa depan yang lebih indah. 

Bahasa penulisan yang digunakan Rene dan Muna pun sangat membumi, sehingga gampang dicerna dan diresapi pesan-pesannya bagi pembaca. Alih-alih mereka berdua menggurui pembacanya, melalui buku ini, Rene dan Muna malah berani menelanjangi diri mereka di hadapan para pembacanya. Akibatnya, pembaca dapat lebih mudah merasa relatable dengan perasaan-perasaan manusiawi yang kedua insan ini alami. 

Dalam blurb-nya di salah satu postingannya, Rene dan Muna menulis, “Apakah benar buku ini akan mendatangkan manfaat pada pembacanya dibandingkan dengan memunculkan kesombongan pada penulisnya?”

Buku ini juga jadi pengingat bagi kita untuk tidak menjadi pribadi yang sombong, agar tetap berserah diri kepada Allah SWT. Bahwa ada orang lain yang juga mengalami pengalaman yang sama. Jalan sunyi ini mungkin tidak akan membuat kita mendapatkan banyak likes dan comment di media sosial, tapi inilah jalan yang lurus.

Kebanyakan penulis, termasuk saya, bisa jadi merasa “sombong” ketika berhasil menerbitkan sebuah karya. “Ini lho buku gue! Gue bisa nerbitin buku. Karya gue bakal dibaca banyak orang. Buku ini bakal jadi tambahan di portofolio gue, menambah rentetan prestasi yang gue lakukan selama hidup gue.” Kira-kira begitu. 

Tapi melalui kalimat tadi, saya merasa Rene masih ragu. Ragu akan tulisannya. Ragu akan keputusan menerbitkan buku yang personal ini. Dan ragu akan dirinya sendiri.

Keraguan akan diri sendiri ini yang menimbulkan tanda tanya bagi saya. Kenapa? Karena meski saya dan Mas Rene mengenal satu sama lain di kehidupan nyata, saya cukup familiar dengan nama Rene CC, akun media sosial yang ia gunakan. 

Pernah suatu kali saya melihat beliau di sebuah co-working space di Jakarta Selatan yang sekarang sudah tutup. Ketika itu saya sedang meeting dengan rekan bisnis, dan saya melihat seorang pria bertubuh sedikit gemuk dan tidak terlalu tinggi. Di wajahnya terpampang senyum lebar. Ada rasa percaya diri yang tinggi di auranya. 

Dengan followers Twitter lebih dari 155 ribu, Rene berhak menyandang gelar selebtwit. Ia merupakan salah satu orang penting di kalangan anak muda berprestasi Indonesia. Banyak teman-teman sebaya saya yang tampaknya mengaguminya.

Salah satu momen yang paling saya ingat mengenai sosok Rene adalah ketika ia terlibat twitwar dengan sejumlah selebtwit lainnya, pada 4 November 2016. Bagi warga Indonesia, khususnya Jakarta, angka 4-11 pasti masih membekas. Angka ini, atau 4 November, adalah awal dari rentetan demo umat Muslim terhadap Gubernur DKI Jakarta saat itu, Pak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. 

Pada saat itu, demo tersebut berujung ricuh. Ada mobil yang dibakar di Jalan Medan Merdeka, sampai penjarahan di Penjaringan, Jakarta Utara. 

Sore itu, Rene ngetwit, “I respect Ahok. Namun beliau telah menyulut api di tengah musim kemarau. Now, he needs to take responsibility.”

Followers Rene dan sejumlah selebtwit lainnya menyayangkan twit tersebut yang menurut mereka tidak diucapkan pada momen yang tepat. 

Fast forward setelah Pak Anies terpilih, pada 14 Mei 2018, beliau menunjuk Rene sebagai Komisaris Utama PT Pembangunan Jaya Ancol. Beberapa selebtwit yang saya follow di Twitter ada yang menyambut gembira kabar ini, ada juga yang skeptis. Apakah ini bentuk balas budi politik Anies terhadap Rene yang membantunya duduk di kursi DKI 1? Who knows.

Tapi dalam kesempatan kali ini, saya enggak pengin ngebahas soal politik, melainkan buku Inilah Jalan Hijrahku. 

Dalam salah satu bagian bukunya, Rene mengakui salah satu trigger dia untuk berhijrah adalah karena dirinya disilaukan oleh politik.

Ia berbagi percakapan dengan salah seorang sahabat baiknya. Sahabat itu bertanya pada Rene, “Masya Allah. Apakah saya—atau interaksi dengan saya—jadi penyebab munculnya situasi ini?”

Situasi yang dimaksud oleh sang sahabat di sini adalah gonjang ganjing rumah tangga Rene dengan Muna. 

Rene menjawab, “Tidak ada, Mas. Kesalahan sepenuhnya ada pada saya karena membiarkan diri terbius dengan pesona dunia politik.”

Siapa sahabatnya? Saya kira pendengar sudah bisa mengira-ngira sendiri hehe…

Merasa bertanggung jawab, sang sahabat singkat cerita mengajak Rene dan istri untuk beribadah haji ke tanah suci pada 2017 tahun lalu, padahal Rene dan Muna pada saat itu belum mendaftar. Tahu sendiri mendaftar haji reguler itu butuh waktu tahunan lamanya. 

Masya Allah, dengan kehendak Allah, Rene dan istri pun bisa berangkat haji dengan persiapan singkat, meski saat itu hatinya juga dihiasi tanda tanya, apakah sudah pantas diri ini berhaji? Terlebih banyak warga Indonesia lainnya yang sudah menunggu bertahun-tahun lamanya. Untuk tahu jawabannya, silakan baca sendiri di bukunya ya. 

Dalam bukunya ini Rene mengaku, sebelum berhijrah, tujuannya sangat praktis-pragmatis, orientasinya sangat duniawi. Seperti rumah yang bisa dibanggain, tabungan untuk masa depan keluarga, mobil bagus, dan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri minimal setahun sekali biar dapet momen-momen yang Instagrammable. 

Ia juga ingin menjadi terkenal, setidaknya di media sosial. Katanya, “That was my life. Amazing from the outside. Rotten from the inside.”

Hingga disebutkan ada suatu kebodohan yang ia lakukan yang menyebabkan rumah tangganya hampir retak. Namun butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa Muna, istri Rene, adalah seseorang yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk membawa perubahan dalam hidupnya.

“Dialah pengingat saya. Dialah pembawa pesan untuk kembali pada jalan yang lurus,” tulis Rene. 

Tapi itu dulu. Subhanallah sekarang, melalui tulisan di bukunya, outlook-nya terhadap hidup kini sudah berubah. 

Disebutkan juga dalam buku, momen pergi haji pasangan suami istri ini tahun 2017, merupakan titik balik hidup keduanya. Rene secara singkat mendeskripsikan tahap-tahap berhaji, beserta maknanya. 

Bagian yang paling menarik buat saya adalah ketika Rene dan Muna, dalam dua bab yang berbeda, menceritakan pengalaman mereka mendaki Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu Allah. Satu perjalanan yang dilakukan keduanya, namun dari dua sudut pandang yang berbeda. 

Di sini saya bisa memvisualisasikan perjuangan Rene dan Muna yang kesusahan mendaki gua yang butuh waktu berjam-jam untuk mencapai puncak dan turun lagi. 

Waktu membaca cerita mereka, saya berpikir, kayaknya kalau buku ini difilmkan akan bagus juga. Jadi filmnya dimulai dengan pendakian Rene dan Muna. Setiap baris yang mereka tulis bisa menjadi narasi yang baik, kontras antara persepsi laki-laki dan perempuan dalam memahami hidup. 

Lalu diselipi adegan-adegan flashbacks yang membuat mereka berada di poin tersebut. Kembali ke masa lalu, atau masa “jahiliyah”, sebelum mereka berhijrah, itu seperti apa. Konflik batin dan konflik rumah tangga masing-masing karakter.

Kemudian kembali lagi ke adegan pendakian Gua Hira, lalu balik lagi ke masa lampau hingga titik balik berhijrah, dan ditutup dengan momen ketika mereka mencapai Gua Hira dan problems resolved, menata hidup demi masa depan yang lebih cerah. 

Namun meski telah mencapai Gua Hira, bukan berarti masalah selesai begitu saja. Jalan masih mendaki. Proses hijrah barulah awal pendakian yang sesungguhnya. Apa saja upaya yang harus kita lakukan agar tetap istiqomah di jalan-Nya. 

Walaupun hidup masih terasa terjal, setidaknya dengan proses hijrah, menurut Rene setidaknya, hidupnya terasa lebih baik. Meskipun kita meninggalkan pekerjaan yang bisa menumbuhkan keangkuhan dalam diri kita, pertemanan yang tidak membawa manfaat, ekspektasi terhadap dunia yang berlebihan. 

Rene mengatakan, “My life now is somewhat quieter and more peaceful. All we need to do is simple, perhaps too simple. Just believe, submit, and surrender only and solely to Allah Azza wa Jalla.”

Masya Allah. Saya bersyukur bisa dipertemukan dengan buku ini. Meski ringan dan enteng, tapi sarat gizi bagi jiwa yang sedang lapar, yang haus ilmu. Bahwa proses hijrah itu tidak mudah semudah diucapkan saja. Setiap orang pasti melalui pergulatan batinnya masing-masing. Everyone is fighting a battle we don’t know about. So don’t ever judge other people for their decision. 

Buku ini juga jadi pengingat bagi saya pribadi untuk tidak menjadi pribadi yang sombong, agar tetap berserah diri kepada Allah SWT. Bahwa ada orang lain yang juga mengalami pengalaman yang sama. Subhanallah. Jalan sunyi ini mungkin tidak akan membuat kita mendapatkan banyak likes dan comment di media sosial, tapi inilah jalan yang lurus.

Sekarang tugas kita adalah menjaga hati agar menjauhi segala hal buruk. Kejar ilmu dengan antusias, dan amalkan. Dan hanya takut kepada Allah SWT.

Comments