'F*cking Whore': Yang Gak Boleh Diucapkan dan Pelajaran Buat Lelaki dari Kasus Jerinx vs Via Vallen



Oleh: Abdul Qowi Bastian


Nama Via Vallen dan Jerinx belakangan ramai seliweran di media sosial. Penyanyi dangdut dan drummer Superman Is Dead itu berseteru akibat penggunaan lagu band punk asal Bali yang berjudul Sunset di Tanah Anarki oleh Via di atas panggung dalam sebuah acara off-air.

Pemilik nama lengkap I Gede Ari Astina itu menyebut, selain Via enggak minta izin sebelumnya, lagu itu pun kehilangan maknanya akibat dibawakan dengan versi dangdut koplo.

“Ngefans tapi sama sekali gak pernah minta ijin bawain lagu SID,” kata Jerinx mengutip pernyataan Via yang mengaku mengagumi lagu tersebut.

Pria kelahiran 10 Februari 1977 itu melanjutkan, “Dan lagu ini pesannya besar. Vallen paham gak apa yang ia nyanyikan? Ini bukan tentang nominal. She’s DEGRADING the meaning of the song”.

Ia juga berargumen bahwa penyanyi semacam Via “akan melakukannya lagi; memperkaya diri memakai karya orang lain sekaligus membunuh ruh dari karya tersebut”.

Pernyataan Jerinx berikutnya lah yang kemudian membuat pria yang peduli pada isu-isu sosial ini kehilangan simpati di mata sebagian masyarakat. “But then again money is not my objective. Anyone can cover it SELAMA dilakukan dengan itikad baik … Jika hanya untuk perkaya diri, then she’s no different than a fucking whore.”

Sementara itu, Via lalu meminta maaf jika membawakan lagu Sunset di Tanah Anarki versi dangdut koplo. Terlebih, ia mengaku tidak tahu menahu soal komersialisasi lagu tersebut dan tidak mendapat uang dari DVD yang beredar karena itu merupakan hasil bajakan yang diedarkan secara tidak resmi melalui aksi panggung off-air.

Pelantun lagu Sayang itu juga menyayangkan pernyataan Jerinx yang menyebutnya sebagai fucking whore. Ia berharap Jerinx dapat lebih menghargai perempuan.

“Jangankan saya. Seorang pelacur dibilang pelacur saja pasti gak terima. Apalagi saya yang bukan pelacur? Bagaimana perasaan saya? Apalagi perasaan orang yang telah melahirkan saya?” kata Via yang menjadi penyanyi theme song Asian Games 2018 itu melalui akun Instagramnya. 

Perihal kontroversi ini, kami ngobrol dengan salah satu perempuan yang terlibat aktif dalam gerakan feminisme Indonesia, Sigi (bukan nama sebenarnya). Berikut potongan obrolan kami:

LM: Sebenernya apa yang menurut kamu jadi permasalahan dalam kasus Jerinx vs Via Vallen ini? Apakah karena Jerinx merendahkan perempuan dengan nyebut Via “fucking whore” atau/dan merendahkan musik dangdut koplo?

Sigi: Masalah yang paling besar dan paling jelas tentu saja penyebutan “fucking whore” ini. Apapun alasannya, apapun keberatannya, memanggil perempuan “whore” atau “pelacur” sebagai hinaan tidak bisa diterima. Pertama, Jerinx menyamakan profesi penjaja seks dengan sesuatu yang hina. Kemudian, Jerinx memakai keperempuanan dan kesensualitasan Via Vallen untuk membawa Via Vallen ke tempat hina tersebut, tempat yang sama dengan penjaja seks. 

Soal apakah Jerinx merendahkan musik dangdut koplo, aku pribadi berpendapat demikian, meskipun Jerinx memakai cara yang tidak eksplisit (pemilihan Via Vallen sebagai target, pemakaian kata-kata “merusak ruh”), dan karena itu tidak bisa dikatakan pasti. Lagipula, aku bukan pengamat musik. Memang bagaimana juga sebagai pemilik lagu Jerinx berhak menyatakan keberatan tentang karyanya, namun yang paling disesalkan adalah Jerinx memilih cara misoginis untuk mengutarakan keberatan tersebut. Kalau Jerinx bisa dengan sopan meminta Jokowi untuk tidak memakai lagunya, kenapa dia tidak bisa berlaku sama ke Via Vallen? 

Kenapa Jokowi bisa diperlakukan dengan hormat, sementara Via Vallen tidak? Bukankah hormat harus diberikan pada semua orang, terlepas apakah dia laki-laki dan presiden atau apakah dia perempuan dan penyanyi dangdut koplo? 

LM: Jerinx kan selama ini juga dikenal sebagai musisi yang peduli pada isu-isu sosial dan kemanusiaan, salah satunya lewat lagu Sunset di Tanah Anarki ini yang berpihak pada korban-korban pelanggaran hak asasi manusia. Tapi, apakah menurut kamu, dengan adanya kasus ini, itu seolah mendelegitimasi image Jerinx yang ia bangun sebagai musisi pro-rakyat?

Sigi: Jelas perseteruan Jerinx dan Via Vallen mendelegitimasi semua yang Jerinx perjuangkan — kemanusiaan, kerakyatan, bahkan keanarkian. 

Ketidaksensitifan Jerinx terhadap makna kata “whore” — yang lebih daripada sekadar umpatan biasa, yang sejatinya adalah umpatan berbasis gender yang secara spesifik menjatuhkan perempuan — menunjukkan bahwa pemahaman dia soal isu kemanusiaan adalah belum lengkap. Sangat memalukan memiliki seorang misoginis sebagai frontman” perjuangan Teluk Benoa.

Jika mau berargumen lebih jauh, sebetulnya lucu melihat seorang Anarko (mengingat Superman is Dead adalah sebuah band punk) memusingkan dirinya sendiri soal isu hak cipta! Sebuah aliran musik yang berangkat dari keinginan untuk melepas diri dari cengkraman kemapanan serta sistem kapitalisme yang menggunakan hak cipta, seharusnya tidak terlalu peduli dengan izin, prosedur, dan tetek bengeknya itu. Lagi-lagi, memang keberatan adalah sepenuhnya hak Jerinx, namun ironi ini terlalu menyolok untuk dilewatkan. 

LM: One more thing, sebelumnya beberapa bulan lalu, Via Vallen juga pernah mengalami kasus pelecehan seksual. Apakah menurut kamu, ini ada hubungannya dengan profesi dia sebagai penyanyi dangdut yang mungkin di mata orang awam, akan lebih mudah untuk menjadi korban pelecehan seksual?

Sigi: Pelecehan seksual terjadi pada hampir semua perempuan dari bermacam profesi, latar belakang, usia, penampilan, dan pakaian. Secara umum, perempuan adalah yang paling rentan menjadi korban (laki-laki juga bisa menjadi korban, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding perempuan). 

Dan sebagai seorang perempuan, Via Vallen tidak terkecuali. Apa yang dialami Via Vallen juga dialami oleh jutaan perempuan lainnya, tidak peduli apakah dia penyanyi dangdut atau pekerja bank. Jadi, kalau soal pelecehan itu sendiri, tidak ada hubungannya dengan profesi. 

Namun demikian, profesi Via Vallen-lah yang menyebabkan kasusnya menjadi high-profile, menjadi sorotan dan perdebatan. Profesi Via Vallen-lah yang secara salah membuat kita berpikir bahwa pelecehan lebih mudah terjadi pada penyanyi sensual saja. Pelecehan itu kemudian dimaklumi, atau paling tidak dilabeli “resiko pekerjaan”. Padahal, pelecehan adalah resiko menjadi perempuan. Dan ini menggeramkan kami.

Nah, gimana pendapat kalian, apakah Jerinx tidak peka karena mengeluarkan pernyataan tersebut atau Via karena meng-cover lagu dan “membunuh ruh” lagu tersebut?

Comments

  1. well tbh ketika ada yang mengkoploin lagu religi atau lagu gereja itu udah rendah banget sih (kurasa itu yang dirasa jerinx sebagai musisi yang men"suci"kan lagunya)

    ReplyDelete

Post a Comment