Pesan WhatsApp Harus Selalu Dibalas Saat Itu Juga Gak Sih?





Oleh: Abdul Qowi Bastian

"Hey, sorry baru balas."

Biasanya itulah jawaban tipikal saya buat mereka yang mencoba menghubungi lewat WhatsApp. Bukan apa-apa, saya memang tipe orang yang suka malas kalau harus membalas pesan melalui aplikasi chat pada saat itu juga.

Penyebutan nama WhatsApp di sini hanya untuk mempermudah perbincangan saja, tapi juga termasuk aplikasi lain seperti LINE atau BlackBerry Messenger (BBM).

Saya memiliki beberapa alasan mengapa enggak selalu membalas pesan secara langsung, meskipun saya yakin enggak setiap orang berpendapat sama. Memang sih, saya akuin kalau kebiasaan ini bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi kurang baik — atau bahkan menggagalkan PDKT ke gebetan.

Dalam pengalaman pribadi, kadang gebetan itu paling males kalau harus menunggu lama untuk sebuah jawaban. Bahkan dari pertanyaan sesimpel, “Hey, lagi apa? Di mana? Udah makan belum?”

Bukannya saya enggak mengapresiasi perhatian yang diberikan, tapi saya merasa, ah cuma basa-basi. Kalau saya mau menghabiskan waktu bareng seseorang, saya akan mengirim pesan ke orang itu, mengajak ketemuan over coffee or something dan ngobrol sepuasnya.

Pada saat itulah, definisi kata “hangout” sebenarnya. Bukan menatap layar selama berjam-jam dengan jempol yang gemetaran karena kebanyakan ngetik. Pada saat yang bersamaan, kita malah mengalienisasi orang-orang di sekitar kita.

Sekarang ini telah muncul kultur baru di kalangan masyarakat metropolitan, yaitu a sense of immediacy. Sebuah budaya di mana seseorang diharapkan melakukan sesuatu pada saat itu juga.

Dengan semakin gencarnya arus informasi dan konektivitas sesama manusia, seakan kita harus membalas pesan ketika pesan itu muncul di layar smartphone. Kalau kita menunggu barang 5 menit atau setengah jam, kita dianggap enggak sopan, enggak tahu etika.

Padahal zaman dahulu, enggak seperti ini adanya. E-mail enggak perlu dibalas waktu itu juga. Atau SMS. Atau surat. Unless… benar-benar darurat.

Paling sebal sama orang yang merasa pesannya harus dibalas pada saat itu juga. Kalau dibalasnya telat sedikit, dramanya lebih heboh dari serial TV Korea.

“Qowi, lo kenapa, sih? Lo marah ya sama gue?”

“Maafin gue ya kalau gue ada salah sama lo.”

“Kalau lo merasa terganggu sama gue, block aja gue dari WhatsApp lo.”

“Gue udah biasa, kok, diginiin. Enggak apa-apa (kasih emoticon senyum, padahal miris).”

Seperti dijelaskan di atas, pertama saya males menanggapi obrolan yang sebenarnya enggak penting. I’d rather meet and talk than chat over instant messaging app.

Kedua, saya lebih mengutamakan untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar. Saya enggak mau mengorbankan kualitas waktu saya dengan orang-orang terdekat (yang udah sangat jarang sekarang ini), dan menatap ke layar smartphone terus.

Unless it’s really important atau kamu adalah anggota immediate family, sabar aja. Pesanmu juga akan dibalas pada waktunya.

Apakah hanya saya yang berpikiran seperti ini? Saya kemudian bertanya kepada teman-teman pria saya. Berikut jawaban mereka:

Apakah kamu termasuk tipe orang yang lama bales pesan di WhatsApp/LINE/etc.? Mengapa?

WhatsApp dan aplikasi chatting lain saat ini adalah bagian dari perubahan gaya berkomunikasi. Gue termasuk tipe orang yang lama balas pesan di WA, karena gue masih menganggap evolusi komunikasi lewat WA ini masih pada taraf sebagai complementary, bukan sebagai primary means of communication.

Tentu kita enggak bisa mantengin WA setiap saat, jadi respons yang diberikan akan lebih lama. Biasanya gue bakal check WA di waktu senggang seperti ketika istirahat makan siang, menjelang pulang kantor, di angkutan umum, atau sebelum tidur.

Rifki Akbari (36 tahun), International Development Consultant (freelancer)

Bagaimana WhatsApp etc. membantu kamu dalam PDKT ke gebetan atau berkomunikasi dengan pacar?

Antara telepon dan texting, lebih seringnya texting. Nah, platform yang paling sering digunakan emang WhatsApp. Sangat membantu untuk deket dengan gebetan. Pernah kita random saling balas puisi di WhatsApp. Jadi lucu juga sih kalo diingat. Tapi gara-gara WhatsApp juga akhirnya gue tau dia memang enggak layak lagi untuk diperjuangkan. Baper. Hiks.

Mahfud Achyar (25 tahun), Communication Specialist, Kementerian Dalam Negeri RI

Menurutmu, etika yang baik dalam berkomunikasi melalui aplikasi chat itu seperti apa?

Umm… for me, etika yang baik adalah apabila orang chat panjang lebar, and I have to reply dengan “niat” juga. Artinya tidak hanya singkat padat dan tidak jelas, kita harus menghargai orang tersebut, agar menunjukkan kalo kita respect those who chat us.

J Ryan Karsten (25 tahun), fashion model and designer

Jadi, bagaimana denganmu? Apakah kamu tipe orang yang selalu membalas pesan pada saat itu juga?

Comments