Ambil Peran Jadi Relawan, Dapet Reward yang Enggak Ternilai Harganya




Oleh: Abdul Qowi Bastian

Selamat Hari Relawan Internasional!

Pasti banyak yang enggak ngeh kalau setiap 5 Desember itu diperingati sebagai Hari Relawan Internasional, kan? 

Gue juga sih, awalnya. Tapi sejak beberapa tahun ke belakang, gue udah familiar kok, apalagi sejak kantor tempat gue bekerja dulu emang punya divisi khusus untuk kegiatan kerelawanan, yang kebetulan gue adalah person in charge-nya. 

Nah, sekarang gue mau ngebahas sedikit tentang pengalaman gue sebagai relawan dan sebagai pihak yang menggunakan jasa para relawan. Siapa tahu ada yang tergerak untuk ikut ambil peran jadi relawan, kan.

Jadi, pada Sabtu, 1 Desember, lalu. Gue diundang untuk menjadi salah satu narasumber pada acara Festival Relawan di Gandaria City, Jakarta Selatan. Barengan sama Miss Indonesia 2015 Maria Harfanti dan Puteri Indonesia Perdamaian Dea Rizkita, kami bertiga menjadi panelis dalam panel yang bertajuk “Saatnya Influencer Ambil Peran Jadi Relawan” yang dimoderatori oleh Eva Kirana dari situs Campaign.

Festival Relawan ini, ternyata rame pake banget! Menurut perkiraan panitia, ada sekitar 2.000 pengunjung yang hadir ke acara dari pagi sampai malam. Acara yang digelar seharian ini emang menghadirkan beberapa panel seperti Melek Politik, Bikin Indonesia Toleran, Garda Terdepan Isu Kesehatan. Di sana juga ada booths komunitas yang mempromosikan diri agar menarik lebih banyak minat pengunjung untuk menjadi relawan. 

Kenapa Jadi Relawan?

Pada sesi terakhir itu, kami ditanya oleh moderator, “Kenapa sih jadi relawan? Dan boleh diceritain tentang kegiatan dan inisiasi kerelawanannya?”

Inilah cerita gue. Pertama kali terjun ke dunia kerelawanan ternyata udah terjadi belasan tahun lalu, yaitu ketika gue masih SMA, ada mata pelajaran khusus yang namanya Creativity, Activity, and Service (CAS), di mana setiap murid diwajibkan untuk melakukan community service selama minimal 2 jam setiap pekannya dari kita kelas 10 sampai 12. Dan kegiatan yang gue pilih adalah mengajar bahasa Inggris di sebuah SD Negeri di daerah Babakan Madang, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Awalnya sih gue dan temen-temen sempat mengeluh “Duh, pagi-pagi hari Sabtu, harus pergi jauh-jauh ke pedalaman.” Belum lagi akses menuju ke sana yang berkelok-kelok dan enggak rata jalanannya.

Tapi, ada satu perasaan enggak terlukiskan setiap kali selesai mengajar. Rasanya senang dan bahagia, kayak habis melakukan suatu kebaikan yang gak ternilai. Dan memang, ketika kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan berupa materi, ada perasaan bahagia yang tidak ternilai berapapun harganya.

Dari awalnya kewajiban, menjadi kegiatan yang sukarela dilakukan. Itulah awal kegiatan kerelawanan buat gue yang tanpa gue sadari membuat gue mengenal diri sendiri lebih dalam. Dan akhirnya, sekarang gue bekerja sebagai dosen. Mungkin titik itu menjadi momen di mana gue menyadari bahwa ini lho passion gue. 

Gerakan Melek Politik

Fast forward ke 2013, gue dan seorang teman kerja, Pingkan Irwin, mencetuskan ide untuk membuat sebuah gerakan melek politik buat anak muda, Ayo Vote namanya.

Tujuan Ayo Vote adalah untuk membuat generasi muda Indonesia ikut berpartisipasi aktif dalam pemungutan suara dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan mendorong mereka untuk menjadi smart voters, bukan hanya menjadi pemilih yang cuma dengar kabar kanan-kiri atau mudah terpersuasi oleh orang-orang di sekitar mereka. 

Dalam gerakan ini, gue dan Pingkan membentuk tim bareng Pangeran Siahaan, Disna “Boim” Harvens, dan Adelia Putri. Tapi untuk menjangkau anak-anak muda di Jabodetabek dan beberapa kota besar lainnya, kami berlima doang enggak akan cukup dan enggak akan mampu.

Maka dari itu, kami mengajak anak-anak muda lainnya, khususnya mahasiswa, untuk terlibat aktif dan menjadi relawan Ayo Vote. Tanpa diduga, ternyata antusiasme mereka sangat tinggi untuk terlibat langsung dalam kegiatan kerelawanan. Mereka rela bekerja keras dan tanpa dibayar agar Ayo Vote mencapai tujuannya.

Beberapa kegiatan yang para relawan lakukan di Ayo Vote ada beberapa:

  • Merancang design poster acara kegiatan dan infografis seputar Pemilu
  • Mendata ribuan calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dan DPRD dari seluruh provinsi di Indonesia agar voters bisa menjadi pemilih yang cerdas dan mengenal rekam jejak calonnya
  • Mempersiapkan detil acara kegiatan off-air seputar politik dan pemilu yang melibatkan politisi, NGOs, stand-up comedians, dan musisi.


Alhamdulillah, Ayo Vote berjalan lancar dan mendapat feedbacks yang positif dari media, kawan-kawan komunitas, pihak penyelenggara pemilu, dan anak-anak muda Indonesia. 

Namun gerakan ini belum kami “hidupkan” kembali pasca Pilpres 2014 karena landscape politik saat ini yang sudah banyak berubah sejak kami memulai pada 2013 lalu. Yang jadi persoalan saat ini bukanlah mengajak anak muda Indonesia untuk terlibat dalam pemilu, tapi membuat mereka berpikir jernih agar tidak saling menyerang antara satu kubu melawan kubu lain. 

Memperbaiki Tingkat Literasi Bangsa

Selain itu, ada beberapa kegiatan kerelawanan lagi di mana gue sempat terlibat meski enggak sering. Salah satunya adalah sebagai volunteer untuk Drive Books, Not Cars (DBNC). Jadi, DBNC ini adalah sebuah inisiatif seorang warga Amerika Serikat yang tinggal di Jakarta, Zack Petersen. Ia menggelar lapak buku bekas di area Car Free Day (CFD) di Jakarta setiap Minggu.

Sebagai relawan, tugas kami adalah mengajak orang untuk mendonasikan buku bekas mereka. Lalu kami menyortir buku tersebut untuk dijual di CFD dengan harga yang sangat terjangkau. Hasil penjualan buku-buku tersebut akan disumbangkan ke Taman Bacaan Pelangi (Rainbow Reading Gardens) yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat literasi anak-anak sekolah di Indonesia bagian timur dengan mendirikan perpustakaan. Per tahun 2018 ini, Taman Bacaan Pelangi sudah berhasil membangun 100 perpustakaan di Indonesia timur, lho!

Perasaan 'Fulfilling' yang Enggak Terungkapkan

Tapi, ada satu komunitas yang sejak dulu gue pengin terlibat, tapi belum kesampaian, yaitu Komunitas Taufan, yang bertujuan untuk mendampingi pasien kanker anak. Gue sendiri terinspirasi dari kekuatan Mama Taufan setelah ditinggal anaknya karena leukimia untuk terus memberi pendampingan dan semangat kepada para orangtua yang anak-anaknya menderita kanker dan juga kepada para cancer warriors anak-anak itu.

Rasanya pasti fulfilling banget melihat senyum ceria di wajah anak-anak untuk sejenak melupakan derita mereka. 

Dengan menjadi relawan, kita melihat bukan hanya ke atas melulu, tapi juga ke bawah dan ke kanan-kiri. Masih banyak banget orang-orang di sekitar kita yang kurang beruntung, yang kondisi di bawahnya belum seberuntung kita dan ingin memperbaiki kualitas hidupnya.

Banyak yang belum bisa membaca tulis, ada juga yang tidak punya akses internet atau buku. Bahkan untuk sebagian orang, bertahan hidup saja sudah menjadi perjuangan tersendiri. Kita-kita ini mempunyai segala kemewahan dan itu harus membuat kita bersyukur karena hidup ini bukan hanya untuk bersenang-senang. Tapi kita yang diberikan kelebihan, bisa membagikan keberuntungan kita untuk mereka yang membutuhkan.

Ayo, ini saatnya kita ambil peran jadi relawan. 

Bingung mau mulai dari mana? Kalian bisa langsung follow Instagram @IndoRelawan atau @Campaign_ID untuk mendapat inspirasi. Mereka sedang menggarap kampanye #10JamAksiBaik yang pastinya kalian bisa ikutan.

Comments