Apa Gunanya Akses Internet Kalau Otak Tidak Kau Pakai?




Oleh: Abdul Qowi Bastian

Udah pada tau belom kalau 10 Desember itu diperingati sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia?

Pada hakekatnya, HAM adalah hak-hak dasar yang kita miliki sebagai manusia, terlepas dari suku, agama, ras, bangsa, orientasi seksual, dan golongan. HAM ini bersifat universal dan berlaku sama bagi setiap orang.

HAM itu sendiri meliputi di antaranya hak untuk hidup, kebebasan berbicara, terhindar dari genosida, hak atas pendidikan, hak untuk mendapatkan pengadilan yang adil, dan masih banyak lagi.

Ngomongin tentang Hari HAM Sedunia, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dibahas melalui contoh-contoh kasus baik di level internasional atau pun dalam negeri. Tapi dalam kesempatan ini, saya mau membahas sebuah puisi sederhana yang ditulis oleh seorang pejuang HAM yang hingga hari ini masih hilang.

Dia adalah Wiji Thukul, seorang penyair jalanan yang dinyatakan hilang sejak kerusuhan 1997 silam. Wiji, yang juga aktivis buruh, dianggap pemberontak oleh pemerintah Orde Baru melalui karya-karyanya yang dinilai subversif.

Puisi-puisinya memang straight to the point, enggak perlu memahami makna-makna tersirat, tapi isinya sangat dekat kepada perjuangan rakyat, sehingga pembacanya dari kalangan mana pun bisa merasa relatable. 

Satu puisi Wiji Thukul yang bakal saya bahas ini berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Puisi ini masih relevan hingga saat ini. Begini bunyinya:

apa gunanya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

Baca lagi, “Apa guna baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu?”

Bukankah itu berlaku bagi kebanyakan kita? Setiap hari kita menerima informasi dan membaca buku … eh, tunggu. Oke, enggak banyak orang Indonesia yang baca buku, tapi lebih sering membaca status updates Instastory, atau tweet-tweet receh, atau bahkan status Facebook yang isinya berapi-api apalagi menjelang Pemilu.

Apapun itu yang dibaca, sebenarnya kita ini adalah masyarakat yang pintar dan cerdas. Kita adalah masyarakat yang berilmu. 

Tapi pertanyaannya, apakah ilmu itu sudah kita gunakan untuk melakukan dan menyebarkan kebaikan? Atau malah menyebar informasi palsu atau berita bohong yang membuat emosi teraduk-aduk? 

Atau seperti banyaknya akun-akun palsu dan anonim di media sosial yang nyinyirin dan menghujat orang lain, bahkan teman kita sendiri yang kadang kita merasa kurang cocok dengannya?

Mungkin, kalau Wiji Thukul ada pada zaman sekarang, ia bakal menulis, “Apa gunanya akses internet kalau otak tidak kau pakai?”

Kita mempunyai kemewahan untuk mengakses internet 24/7, tapi apakah kita sudah menggunakan kelebihan itu untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya? Atau kita hanya menggunakan internet untuk scrolling timeline Instagram sampai berjam-jam, yang berdampak mengutuk kehidupan sendiri karena melihat kehidupan teman-teman lain atau selebgram yang lebih bahagia? 

Ada juga sebagian kita yang memang pintar dan cerdas, tapi acuh tak acuh terhadap problematika negeri ini. Mungkin ada dari kalian yang berpikir, “Ah percuma kalau gue ikut campur, enggak akan mengubah apapun.” 

Hey, ada yang pernah dengar kalimat ini, “Kejahatan merajalela karena orang baik diam”?

Jadi, di Hari HAM Sedunia ini, ayolah kita refleksi dan mengenang para pejuang HAM yang telah gugur atau menghilang, atau ikut memberikan dukungan kepada mereka yang sampai hari ini masih berjuang demi menegakkan hak asasi manusia.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Gunakanlah ilmu dan akal yang kita punya untuk berbuat dan menyebarkan kebaikan. Jadikan kecerdasan dan intelektual kita untuk menyuarakan hal-hal positif, bukan menjadi penebar negativisme. 

Karena setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, berhak untuk memiliki kebebasan bersuara, tentu yang sesuai batas.

Comments