Gading Marten dan 'Love for Sale': Ketika Cinta Dikejar Tenggat Waktu




Oleh: Ibrahim Musa

Belakangan ini Gading Marten selalu menghiasi layar kaca dan smartphone kita. Jika pada beberapa pekan lalu namanya diterpa isu tak sedap perihal perceraiannya dengan penyanyi Gisella Anastasia, tapi pada Minggu, 9 Desember, lalu ia mengubur berita negatif dengan penghargaan bergengsi di industri perfilman Indonesia.

Gading dinobatkan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2018 berkat perannya sebagai laki-laki jomblo berusia 41 tahun di film Love for Sale. 

Film ini bercerita mengenai Richard Achmad Wiradjaja, seorang mualaf keturunan Tionghoa yang dikejar tenggat waktu untuk mendapatkan pasangan, mengingat usianya yang sudah lewat kepala 4.

Potret laki-laki yang digambarkan Gading ini salah satunya yang membuat film ini menarik, karena dia adalah kebanyakan dari kita semua, yang di rumah hanya pakai kaos kutang belel dan celana dalam kelonggaran yang sudah bolong-bolong. Belum lagi hobinya yang garuk-garuk sambil nonton pertandingan sepak bola sendirian di ruang tamu, ditemenin oleh kura-kura peliharaannya.

Suatu hari, Richard si pengusaha percetakan, melihat sebuah brosur iklan perusahaan dating startup Love.Inc yang dicetak di kantornya. Dia bilang ke salah satu bawahannya, “Hari gini masih ada yang ngiklanin kayak gini? Paling buat orang yang gak laku-laku kali ya?” katanya sambil cengengesan. Padahal sih dalem hati, dia juga gak laku.

Penasaran, akhirnya Richard menghubungi nomor telepon yang tertera di brosur itu dan datanglahx Arini Kusuma, seorang perempuan bayaran yang akan menjadi pacar Richard selama 45 hari. Nah setelahnya, kamu bisa tebak sendiri deh kira-kira gimana jalan ceritanya, daripada spoiler di sini kan. 

Tapi ada satu pesan dari tokoh Richard yang kita sebagai laki-laki bisa petik. Salah satunya adalah memperlakukan wanita dengan sopan. 

Contohnya, nih. Ketika kebingungan nyari teman kencan untuk dibawa ke pernikahan sahabatnya, Richard mengajak karyawatinya untuk jadi pendamping. Eh, Danti, nama karyawatinya, curhat dong ke temannya yang nanya ke Richard. Enggak terima “rahasia”-nya tersebar di bawahannya, ia langsung memanggil Danti dan memecatnya pada saat itu juga. Tinggallah Danti dibuat menangis tersedu di pinggir jalan.

Ada lagi adegan ketika Richard bertemu dengan seorang perempuan dalam sebuah blind date. Memang sih, perempuannya juga udah lama sendiri kayak Richard dan langsung ngajak berkomitmen panjang sampai mau ngenalin ke orangtuanya segala. Tapi Richard dengan alasan mau ke kamar kecil, malah meninggalkan kafe dan si perempuan sendirian. 

Ya pantas lah kalau kita sebagai laki-laki yang terkadang kurang sensitif terhadap perasaan perempuan dan enggak bisa mengomunikasikan perasaan kita ke lawan jenis dengan baik, melajang begitu lama. Apalagi ketika kita juga disibukkan dengan pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran. 

Nah, buat yang ketinggalan Love For Sale di bioskop beberapa bulan lalu, sekarang kalian bisa nonton streaming di Netflix. Buruan deh sebelum masa tayangnya habis, daripada nonton bajakan kan ya, karena memang akting Gading Marten di sini pantas mendapat acungan jempol berkat perannya yang realistis sebagai laki-laki masa kini.

Gading, sebagai diri aslinya bukan tokoh Richard, juga patut mendapat jempol satu lagi sebagai laki-laki yang berbakti. Buktinya, anak dari aktor legendaris Roy Marten ini mengungkapkan lewat akun Instagramnya kalau menjadi anak seorang selebriti itu bukan hal yang gampang.

“Tidak mudah menjadi seorang anak Roy Marten untuk mencoba bermain film,” katanya di caption Instagram. 

Sejak kecil ayahnya enggak pernah menyuruhnya mengikuti jejaknya, mengingat Roy Marten sendiri sudah merupakan nama besar di industri perfilman Indonesia.

Memang Gading sempat beberapa kali mendapat peran di sinetron, film, dan FTV, tapi belum ada yang sesukses Love for Sale  ini.

Roy sendiri yang memang sangat suportif terhadap anaknya ini layak bangga. Ia menulis di caption Instagramnya, “Anakku juara. Selamat untuk Gading, the best actor. Papa bangga atas keberhasilanmu. Papa bangga terhadap semua keluarga, istri, semua anak cucuku”.

Sungguh hubungan ayah-anak yang positif dan mengharukan, bukan?

Selamat buat Gading Marten yang bisa melalui masa-masa sulit dalam hidupnya dan membaliknya dengan prestasi. Keren!

Comments