Tahun Pertama Hari Ibu Tanpa Ibu



Oleh: Abdul Qowi Bastian

Hari Ibu tahun ini akan terasa berbeda bagi Dimas Hary. Kali ini tidak ada ibunya yang biasanya ia ajak makan malam bersama di Kota Bandung.

“Biasanya aku selalu ajak makan di tempat yang ia mau,” kata Dimas.

Dimas, yang dulu bekerja di Jakarta, selalu menyempatkan pulang ke Bandung ke tempat orangtuanya tinggal setiap 20 Desember, dua hari sebelum Hari Ibu, dan 5 hari sebelum hari ulang tahunnya.

“Kalau enggak pulang, ibu akan telepon dan nanya, ‘Kamu pulang, enggak? Mau dimasakin apa?’” kata Dimas menirukan pertanyaan ibunya.

Ibunya, RR Siti Rusmini, selalu membuatkan makanan kesukaan Dimas, sayur senerek—sayur kacang merah khas Magelang—tiap ia berulang tahun.

Tapi pada Hari Ibu tahun ini dan pada hari ulang tahunnya beberapa hari kemudian, Dimas akan memperingatinya seorang diri. Tidak ada sayur senerek hari itu.

Ibu Siti Rusmini meninggal dunia pada 9 Januari 2017 lalu. Dimas masih jelas mengingat kejadiannya. Malam itu berjalan seperti malam-malam lainnya.

Sementara ibunya menonton televisi, sinetron Anugerah Cinta di RCTI yang karakter utamanya bernama Naura, Dimas merokok di teras rumah. Ia mendengar lampu di dalam rumah dimatikan, penanda ibu sudah selesai menonton dan masuk ke dalam kamar.

Dimas, yang biasa begadang, tertidur sekitar menjelang pukul 3 dini hari.

“Paginya, keponakanku sedang menginap di rumah, biasanya kami hanya tinggal berdua, mengetuk kamarku dan nanya, ‘Om, Eyangti kok dibangunin tapi enggak bangun-bangun ya?’” ujar Dimas.

Ia langsung loncat ke luar kamar dan melihat ibunya tertidur. Ia berusaha membangunkan, tapi ibunya tetap bergeming. Pagi itu, ibunya telah pergi.

Tidak ada pertanda sebelumnya, tidak ada wejangan atau pesan terakhir. Tidak pula ibunya menderita sakit sebelumnya. Padahal usianya sudah menginjak 82 tahun, tapi Ibu Siti Rusmini masih bekerja di Yayasan Kartini yang memiliki sebuah SMK di Kota Bandung.

“Ketika orang-orang bilang, ‘Enak ya ibu enggak nyusahin [meninggalnya],’ buat aku sih kurang enak ya,” kata Dimas.

“Kalau orang sakit, kitanya udah bersiap mental, worse comes to worst, pergi. Tapi ini tidak ada apa-apa.”

Selama 100 hari sejak kepergian, Dimas selalu menyempatkan diri ke makam ibunya setiap Senin karena beliau meninggal pada hari itu.

“Di sana aku selalu marah setiap kali. Kesssseeelll…,” kata Dimas meluapkan emosinya yang saat itu masih belum bisa merelakan kepergian ibunya.

Teman-temannya pun menasihatinya agar tidak bersikap seperti itu. “Akhirnya aku belajar untuk letting go,” ucapnya.

Ia ingat, empat hari sebelum ibunya meninggal, ibunya meminta diajak pergi makan ke Warung Kopi Purnama, sebuah kedai kopi legendaris di daerah Braga yang berdiri sejak 1930. Menurut Dimas, di kedai kopi inilah ibunya banyak menghabiskan waktu semasa muda.

Ibu Siti Rusmini sering kali berkunjung ke kedai kopi ini dengan menggunakan sepeda ontelnya pada zaman dulu. Di tempat ini, setiap Dimas pergi berdua dengannya, ibunya banyak menceritakan kisah-kisah masa lalunya, salah satu hal yang paling dikenang tentang ibu.

“Karena cerita-cerita dari zaman dulu itu enggak akan pernah habis,” ujarnya.

Tapi hal yang paling ia rindukan dari sosok ibunya adalah perhatian yang diberikan. Dimas, yang terbiasa bangun siang karena sering begadang, selalu akan menemukan jajanan pasar di meja makan begitu ia keluar kamar setiap pagi.

“Kalau enggak kerja, ibu suka jalan pagi. Dalam perjalanannya ia suka beli jajanan pasar,” kata Dimas.

Hari-hari ini, tidak ada lagi penganan ringan yang menantinya tiap pagi. Tidak ada lagi orang yang ia ajak makan malam setiap Hari Ibu. Tidak ada lagi ibu yang membuatkan sayur senerek pada hari ulang tahunnya.

Semoga Allah SWT melapangkan kubur kedua orangtua Dimas dan menerangkan jalan menuju pangkuan-Nya.

Tulisan ini merupakan kerjasama dengan Rappler Indonesia, yang telah diterbitkan sebelumnya pada 22 Desember 2017.

Comments