Janganlah Penampilanmu untuk Pamer Agama: Pesan Kehidupan dari Wiranto


Menkopolhukam Wiranto saat memberi sepatah kata dalam pemakaman cucunya. Foto: Facebook.com/Wiranto.Official


Oleh: Ibrahim Musa

Kabar duka kembali menggelayuti Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto beberapa waktu lalu. Pasalnya, cucunya yang masih balita, Ahmad Daniyal Al Fatih, meninggal dunia.

Ini bukan pertama kalinya ia ditinggal oleh keturunannya. Beberapa tahun lalu, anak laki-laki Wiranto, Zainal Nurizky, meninggal dunia karena sakit saat belajar agama Islam di Afrika Selatan. Tentu, tidak ada orang tua yang mau kehilangan anak dan cucunya. Bahkan ada pepatah yang mengatakan, “No parents should bury their child” (Tidak boleh ada orang tua yang menguburkan anaknya).

Bayangkan betapa pedih dan sedih yang dialami oleh Pak Wiranto beserta istri dan keluarganya. Namun, sebagai mantan Panglima ABRI, Pak Wiranto pastilah sosok pria yang tegar dan tabah. Ia sudah dilatih untuk menjadi kuat, bukan hanya dalam medan peperangan, tapi juga menghadapi problematika hidup.

Kehilangan anak dan cucu saja sudah berat, apalagi jika ditambah dengan cibiran dari orang asing atau netizen, yang tidak ia kenal. Almarhum anaknya, karena kontras dengan kebanyakan anak pejabat lainnya, sempat dikira tengah belajar menjadi teroris karena mendalami ilmu agama. Bahkan ketika cucunya meninggal dan anak beserta menantunya tampil di muka umum mengenakan pakaian Muslim dengan bercadar dan bersorban, keluarganya kembali menerima cibiran. 

Sebenarnya, Pak Wiranto memang tidak perlu menanggapi cibiran-cibiran yang dialamatkan ke keluarganya, ia tidak berhutang penjelasan kepada siapa pun. Tapi saya senang ketika beliau menulis sebuah postingan panjang lebar di akun Facebook-nya beberapa pekan silam, yang menjelaskan tentang prinsip yang ia ajarkan kepada anak-anak dan keluarganya.

Sedikit banyak, kita, khususnya para lelaki, bisa mengambil pelajaran hidup dari Pak Wiranto dan keluarganya.

Saya sendiri sangat terkesan dengan pernyataan beliau berikut ini: 

“Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara,” kata Pak Wiranto dalam caption Facebook-nya tertanggal 19 November 2018.

“Kamu boleh kenakan baju apa saja, selama kamu merasa nyaman tetapi yang penting janganlah penampilanmu hanya untuk pamer tentang ke-Islamanmu, karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama,” lanjutnya.

Nah, daripada penasaran, langsung aja baca pesan dan petikan cerita kehidupan Pak Wiranto di bawah ini yang kami salin dari akun Facebook beliau:

 

Wiranto beserta segenap keluarganya saat menghadiri pemakaman cucunya. Foto: Istimewa

Beberapa tahun yang lalu, di saat anak saya Zainal Nurizky (alm) meninggal dunia pada saat belajar Al Qur’an di Afrika Selatan, ada sebagian orang mengatakan bahwa anak Wiranto menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme dan seterusnya. Padahal dengan kesadarannya sendiri dia minta ijin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang tepuji. 

Dia mendalami Al Qur’an untuk memantapkan akhlaq dan moralnya sebagai basis pengabdiannya ke depan nanti sebagai generasi penerus. Lewat internet, dia memilih tempat belajar Al Qur’an yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Al Qur’an yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris. 

Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal di sana karena sakit, di saat membaca ayat-ayat suci. Maka saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya pun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani.

Sekarang ini pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak-kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut, media sosial ramai membincangkan tentang mereka. Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam.

Agar anak dan cucu saya dapat menghadap Allah yang Maha Kasih dengan tenang, maka tidak ada salahnya kalau saya menjelaskan tentang keluarga saya dan prinsip-prinsip kehidupan yang saya berikan kepada mereka.

Saat ini di tahun 2018 sudah genap setengah abad (50 tahun) saya mengabdikan diri saya kepada Ibu Pertiwi, 32 tahun dalam penugasan sebagai militer aktif dan sisanya 18 tahun dalam politik dan pemerintahan. Banyak yang telah saya lakukan untuk menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan negeri ini. Prestasi, pujian, juga fitnah dan cercaan sudah tak terbilang banyaknya, namun tidak menggoyahkan kecintaan saya kepada negeri ini dan keyakinan saya tentang ideologi negara Pancasila, Saptamarga yang telah merasuk dalam jiwa raga saya.

Dengan modal itu saya ajari mereka untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini di mana pun posisi mereka, apapun pekerjaan mereka karena di sinilah kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan bahkan tempat peristirahatan yang terakhir.

“Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara”.

“Kamu boleh kenakan baju apa saja, selama kamu merasa nyaman tetapi yang penting janganlah penampilanmu hanya untuk pamer tentang ke-Islamanmu, karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama”.

Saya memberikan kebebasan kepada keluarga saya untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah saya pesankan kepada mereka itu. Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini.

Saya beruntung pernah dipercaya menjadi Panglima ABRI/TNI tetapi tak seorang pun anak atau menantu saya mengikuti jejak saya sebagai militer, atau menjadi rekanan untuk pengadaan Alutsista. Saya mendirikan partai Hanura, namun tak seorang pun dari keluarga saya menjadi pengurus partai. Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaatkan jabatan saya untuk kepentingan pribadi. Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu.

Terima kasih kepada siapa saja di saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, telah memberikan atensi dan doanya. Semoga semua itu akan menjadi bekal yang menerangi jalan baginya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kasih, Amiin.

 

Comments