Memungut Sampah Asian Games 2018, Pengalaman Berharga Relawan Kontingen Kebaikan


Kontingen Kebaikan pembersih sampah di Gelora Bung Karno saat pagelaran Asian Games 2018 di Jakarta pada Agustus-September lalu. Foto: Anugrah Putra

Oleh: Abdul Qowi Bastian

Memasuki musim hujan di penghujung tahun ini, saya teringat dengan obrolan bersama Anugerah Putra, salah seorang relawan di Festival Relawan pada awal Desember lalu.

Ceritanya menarik. Kala itu hari Minggu, 2 September, silam, hujan mengguyur ibu kota. Kebetulan, malam itu merupakan upacara penutupan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan.

Putra bersama ratusan relawan lainnya saat itu sedang “bekerja” sebagai tim relawan bagian kebersihan. Bayangkan bagaimana kerepotannya ia dan kawan-kawannya memungut sampah dan membersihkan jalanan di tengah guyuran hujan yang bikin becek nan berlumpur. 

Tapi pengalaman tak mengenakkan itu enggak menjadi halangan baginya untuk tetap setia pada jalur kerelawanan, sesuatu yang menurutnya banyak manfaatnya. 

Bagaimana kisahnya ia bisa menjadi relawan di Asian Games? Dan pengalaman apa aja yang ia dapatkan dari perhelatan olahraga terbesar di Asia itu? Berikut obrolan Lelaki Metropolitan dengannya:

Halo Putra, ceritain dong gimana awalnya kamu bisa jadi relawan kebersihan Asian Games?

Awalnya dulu aku terlibat di Indo Relawan. Menjelang Asian Games, Indo Relawan bekerja sama dengan Aqua yang meluncurkan kampanye #KontingenKebaikan. Kontingen Kebaikan itu adalah kumpulan orang-orang yang peduli akan kebersihan di setiap venue Asian Games. 

Dari tim Indo Relawan, aku diajak sebagai salah satu team leader, yang mengarahkan para relawan tentang apa aja sampah yang perlu kita ambil, lokasinya di mana, hingga menyediakan fasilitas pembuangan sampahnya.

Kebetulan aku jadi relawan full selama 16 hari. Di sana aku ketemu dengan relawan yang berbeda tiap harinya. Weekdays kita bisa bertemu hingga 50 relawan yang bekerja sampai jam 6 sore. Sedangkan di weekend kita bisa bertemu hingga 200an relawan.

Jadi relawan itu dibayar gak sih?

Para relawan ini enggak dibayar. Tapi kami menyediakan snack untuk konsumsi, akses masuk secara gratis untuk ke area Gelora Bung Karno tapi enggak ke pertandingan buat para relawan. 


Relawan Kontingen Kebaikan yang membersihkan sampah di dalam venue Asian Games 2018. Foto: Anugrah Putra

Selain memungut sampah, apa aja tugas Kontingen Kebaikan?

Nah kita juga mengedukasi pengunjung untuk ikut berpartisipasi memilih dan membuang sampah. Ada sampah plastik yang nanti akan didaur ulang oleh tim Aqua. Sedangkan sampah non-plastik akan dibuang langsung.

Di sini seru banget karena keberadaan kita di hari pertama dan kedua itu enggak dilihat sama orang. Tapi akhirnya di hari keempat, akhirnya mulai banyak orang yang notice dan ngajak join untuk jadi Kontingen Kebaikan, karena kita bisa bikin bangga Indonesia sebagai tuan rumah dengan menjaga kebersihan. 

Dan kita gak cuma baik dalam hal menjaga lingkungan aja, tapi juga baik dalam  hal lainnya. Misal, ketika kita udah beres kerja jam 6 sore dan snack masih ada sisa, kita bagi-bagiin ke abang-abang kaki lima, tukang parkir, driver ojek online.

Kita bisa nunjukin kepedulian bahwa menebar kebaikan enggak cuma soal kebersihan aja, tapi juga setiap orang berhak menerima kebaikan. 

Wah, mulia banget niatnya. Tapi, ada pengalaman dukanya gak sih selama jadi relawan Kontingen Kebaikan?

Pada Closing Ceremony, padahal kita udah nurunin sampai 300an relawan, tapi sampah tetap menumpuk. Emang gak bisa dipungkiri karena faktor alam juga.

Jadi, kita baru kerja kurang dari satu jam, tapi kita gak bisa melanjutkan aksi lagi karena hujan deras, padahal masih banyak sampah dan banyak banget orang yang dateng.

Duka lainnya, masih sedikit banget orang-orang yang peduli kebersihan. Meski udah ada kehadiran kita sebagai pembersih lingkungan, tapi dari mereka (para pengunjung) yang belum mau sadar kayak, “Oh iya, ini sampah gue. Gue harus buang sampah di tempatnya”.

Relawan Kontingen Kebaikan yang membersihkan sampah di area outdoor GBK Asian Games 2018. Foto: Anugrah Putra

Masih banyak orang yang buang sampah sembarangan. Meski di jalan utama udah cukup bersih, tapi di beberapa area seperti Istora Senayan dan area festival dan food court, itu masih cukup banyak sampah yang berserakan. Apalagi kalau banyak sampah di selokan yang susah diambil karena sempit dan sulit terjangkau. 

Untuk menumbuhkan kesadaran itu, kita cukup berjuang dengan mengingatkan mereka hingga perlahan masyarakat menghargai kehadiran kita dan membuang sampah pada tempatnya. Biasanya mereka akan minta trash bag ke kita untuk ngumpulin sampah mereka sendiri.

Kenapa sih pengin jadi relawan, kan gak dibayar? Emang apa sih yang didapatkan?

Awalnya aku cuma mau jadi relawan 4 hari aja, karena cukup capek kan dari pagi sampai sore, apalagi aku rumahnya di Bogor. Tapi ketika aku turun di hari pertama dan hari-hari berikutnya, aku memutuskan untuk ambil full 16 hari.

Karena kalau bukan dari diri aku yang memulai, siapa lagi yang mau ambil peran? Mungkin gak semua orang akan berpikiran seperti aku, bahwa turun jadi relawan tuh gak bikin rugi. Karena aku merasa ada tanggung jawab di sini.

Meski capek dan jauh, pulang malem, pergi pagi, itu sama sekali gak menyurutkan semangat aku. Karena ketika aku turun ke lapangan ketemu para relawan lain yang tiap hari berbeda, itu jadi motivasi aku. “Tuh lihat, mereka aja gak patah semangat, kenapa gue harus down?

Dan ketika aku melihat pengunjung, dari anak kecil sampai dewasa, ikut memungut sampah dan membuangnya, bikin aku tambah semangat bahwa keberadaan kita itu dihargai oleh orang-orang. 

Comments